Review: Adriana – Labirin Cinta di Kilometer Nol

Judul: Adriana – Labirin Cinta di Kilometer Nol

Penulis: Fajar Nugros & Artasya Sudirman

Penerbit: Lingkar Pena Publishing House

Jumlah halaman: 386 hal.

Terbit: Cetakan I, Januari 2010

ISBN: 978-602-8436-48-9

Harga: – (harga resminya kurang tahu, belinya pas GM lagi diskon besar-besaran. Cuma Rp. 15.000,- Mihihi..)

*

Kata pertama untuk novel ini adalah amazing! Kenapa? Karena dua penulisnya pintar membuat saya bengong. Buat saya yang lumayan suka sejarah dan termasuk jajaran perempuan yang cukup kepo dan ‘pengen tau aja’, novel ini adalah makanan yang cocok untuk memuaskan hati dan otak.

Adriana dimulai dari kisah seorang cowok bernama Mamen yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada seorang gadis yang ia temui di depan lift perpustakaan nasional. Ia berniat bertemu lagi dengan gadis itu, tapi si gadis malah memberinya teka-teki demi teka-teki yang berhubungan dengan sejarah yang harus ia pecahkan jika ingin menebak di mana tempat dan waktu yang dijanjikan.

Adalah Sobar, sahabat Mamen dari jaman sekolah yang terkenal pintar sejarah dan berotak encer. Ia selalu dimintai tolong oleh Mamen untuk membantu memecahkan teka-teki Adriana. Sobar tahu hampir seluruh jawaban teka-teki itu, tapi kadang dengan tingkah isengnya, ia sesekali malah menyesatkan Mamen. Di sinilah letaknya potongan-potongan kecil kisah kocak mereka yang disuguhkan untuk pembaca, ditengah runyamnya *halah* teka-teki yang dimainkan Adriana.

“Harinya adalah tiga hari setelah Fatahillah mengusir Portugis dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Masanya sampai pada perang Diponegoro. Namun orang-orang merana itu tahu, saat mati, jasad mereka akan merana terkubur jauh dari tanah tumpah darah mereka sendiri. Aku yang menunggumu adalah Adriana, pada mimpinya yang tak pernah mati.”

Kalimat yang indah, yes? Saya suka banget kalimatnya. Dan tahu ke mana teka-teki ini membawa Mamen dan Sobar? Ke kuburan Belanda di Kebun Raya Bogor! Mimpi yang tidak pernah mati itu adalah KRB sendiri, karena KRB adalah ‘hadiah’ dari Sir Thomas Stanford Raffles untuk istrinya Olivia Marianne Raffles yang bermimpi memiliki sebuah kebun raya yang indah. Dan di sanalah mereka lalu mencari makam Adriana, maksudnya Adriana yang asli. Adriana Van Den Bosch yang wafat pada 18 September 1831.

SIALNYA, setelah menemukan makam itu, Mamen mendapat teka-teki baru, tanpa adanya gadis itu di sana.

“Dia menjual mobilnya untuk membangunku, temui aku di tempat aku menunjuk. Pada waktu wafatku, Adriana.”

Ke manakah lagi mereka akan dibawa? Ya, saya capek ceritanya :p ada baiknya kamu, kamu, dan kamu yang baca resensi ini membeli bukunya sendiri. Buku ini unik menurut saya, karena selain membuat pembacanya membaca, juga membuat mereka berfikir dan belajar! Tahu banyak tentang sejarah ibukota negara dan sejarah-sejarah lainnya. Ah, saya selalu suka hal-hal yang berhubungan dengan sejarah dan Jakarta :) kombinasi yang manis seperti roti bakar cokelat keju :p *mulai OOT*

Pengaruh buku ini terhadap saya sebenernya sih nggak terlalu banyak. Tapi ini jujur, saya super penasaran sama makamnya Adriana dan langsung jalan-jalan ke KRB nggak lama setelahnya. Demikianlah, karena saya adalah perempuan yang selalu ingin tahu :|

Empat bintang untuk Adriana :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s